Mata Sendu

Sudah saja. Aku sudah tahu. Apa sebab kau lelah. Jadi, sudah saja.

Aku melihatnya sendu. Bendungan sewindu rindu. Tetes rindu yang tak bertemu. Kata orang ini cinta. Tapi bukankah cinta tak berkesudahan?

Sungguh aku tak ingin ada diujung cinta. Tapi, bagaimana? Kau lelah dan dia kalah.

Matanya saja bercerita lewat tetesnya bahwa dia pun lelah. Membagi cinta tentu saja tak mudah. Tak usahlah kau berbagi jika tak mau. Tak usahlah ragu jika kau mampu. 


Dari aku, matamu. 

Iklan

Saat Perempuan Menjadi Istri

Perempuan. 

Perempuan adalah makhluk indah yang diciptakan untuk mendampingi laki-laki. Bukan untuk menyaingi laki-laki atau sebagai pembantu laki-laki, tapi sebagai pendamping laki-laki.

Sesederhana itulah saat perempuan menjadi istri. Bagaimana cara mendampingi? Salah satu tugas dari pendamping adalah mempersiapkan yang didampingi. Apa sajakah itu? Segala hal. Dimulai dari suami membuka mata untuk beraktivitas hingga suami menutup mata untuk tidur.

Hampir seluruh perempuan memperkaya ilmu mengenai memasak. Tentu untuk membuatkan suaminya makanan. Hanya masak saja? Tentu tidak. Istri harus menyiapkan kebutuhan suaminya dan memastikan kebutuhan suami terpenuhi.

Jadi istri tidaklah mudah. Tapi tidak sesulit yang dibayangkan. Karena pernikahan adalah proses membangun rumah tangga. Bukan hanya sekedar membangun saja, tapi mempertahankan dan mengelola agar rumah tangga tidak hancur lebur saat badai penghadang datang.

Setelah jadi seorang istri, pastikan kamu selalu menjaga nama baik suamimu. Itu yang paling utama. Tugasmu sebagai kepala keuangan harus bisa mengelola keuangan rumah tangga. Tugasmu sebagai ibu dari anak-anak harus bisa mendidik dan memberikan nilai-nilai positif. Tugasmu sebagai istri adalah mendampingi suamimu saat suka dan duka.

Dan saat perempuan menjadi istri, itu adalah momen terindah sepanjang hidupnya.
-Bandung, 10 Maret 2017-

Ya..ya..ya..

Sulit untuk menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Saat semua orang berfikir mungkin hidupku terlalu begini dan begitu namun mereka tak dapat membantu.

Hanya ada satu sosok yang selalu mendampingi, melindungi, menyayangi dan mencintaiku. Ya, dia adalah kekasihku.

Hubungan kami memang tak didasari oleh cinta, bahkan rasa suka pun tidak. Tapi inilah yg terjadi. Pondasi hubungan kami memang seperti itu adanya.

Tanpa pondasi yg kuat seperti kisah cinta lain, kami bertahan sampai usia hubungan kami menginjak enam tahun. Terpaksa dan saling memaksakan, memang. Tapi memang tak ada alasan khusus bagi kami untuk berpisah.

Keadaan saling melengkapi membawa kami ke dalam hubungan yang saling mempercayai. Saling menutupi kekurangan adalah satu-satunya hal yang bisa kami lakukan.

Sekarang, setelah lebih dari enam tahun mengenalnya, dia mengungkapkan niat baiknya untuk bersamaku membangun sebuah keluarga bahagia. tepatnya 31 desember 2014.

Dan, ya, tentu saja. Aku mengatakan “ya”.

Jika Ini Cinta

Jangan terlalu berharap saja.

Aku menyayangimu, hingga tak menyadari aku menyayangimu begitu dalam.

Tahun-tahun berganti. Banyak yang telah dilalui. Banyak badai menghadang, banyak orang-orang menentang, tapi kita semakin kokoh tak tergoyahkan.

Tapi sekarang, semuanya tampak berbeda. Rasa lelahku semakin kuat, sedangkan perjuanganmu semakin hebat.

Jika saja dulu kau dan aku berjuang bersama-sama, maka mungkin kisahnya tak begini. Berjuang bersama, bukan aku saja atau kau saja.

Aku hanya lelah, tak tau akan kau bawa kemana hubungan kita. Keyakinanmu dan keseriusanmu tak menghapus lelahku sedikitpun, tapi membuatku takut.

Apa ini cinta atau obsesi belaka?

Jika cinta, maka Tuhan akan memberikan jalan.

Jika cinta, maka lelahku ‘kan hilang.

Kepada Calon Imamku…

Calon Imamku,

Kamu ada dimana saat ini?

Sedang menantikanku?

Sedang berdo’a agar kita segera dipertemukan?

Calon Imamku,

Sungguh aku ingin segera bertemu

Tapi memang rasanya sulit sekali menemukanmu diantara berjuta lelaki

Kamu yang mana sih?

Calon Imamku,

Seperti apa sih, kamu?

Tampankah? Mapankah? Cerdaskah?

Jika engkau begitu sempurna,

Yang pasti, aku hanya ingin kau menerima kurangku

Kepada calon Imamku,

Semoga kita segera dipertemukan, ya.

Aamiin.

Tertanda, Calon Istrimu.

Kosong

Ada yang kurang. Entah apa.

Ada yang kosong. Entah dimana.

Dulu

Kau mematung menatap tanah tempatmu berdiri

seolah berharap ia menelanmu dari hadapku

Pergilah.

Aku tak ingin kau menungguku

Sekarang, tempat kosong menganga dihatiku

Berubah

Saat hati ini bergetar, pertanyaan pertama yang selalu muncul dibenakku “untuk berubah, dimulai dari mana ya?”

Ada keyakinan yang tak bisa hilang. Ada kepastian yang mendesak keluar dari ingatanku. Bahwa suatu hari nanti, aku akan dan pasti bisa menjadi lebih baik.

Aku terus melangkah maju. Aku yakinkan hati. Menjadi lebih baik itu kewajiban. Walau halangannya berat. Walau harus merasakan sakitnya jatuh. Penghinaan selalu ada saat kita mencoba melangkah maju untuk lebih dekat dengan-Nya.

Kepercayaan dan godaan. Dia pasti akan membantuku untuk mencapai keinginanku yang selalu kubutuhkan.